Tubaba, indonewsmedia.com – Di masa lalu menjadi wartawan bukan pilihan mudah. Ada syarat, ada proses, ada kualitas yang harus dibuktikan. Senin 24/11/2025.
Seseorang harus sudah terbiasa menulis, opini, esai, atau laporan dan pernah dimuat di media.
Kalau tidak jangan mimpi bisa diterima. Kalau diterima masih dianggap “magang” minimal 1–2 tahun. Profesi ini lahir dari tempaan bukan dari keberanian sesaat.
Tetapi hari ini dunia sudah berubah dengan kecepatan yang begitu cepat. Yang dulu lahir dari panggilan hati kini banyak yang tumbuh dari modal nekat. Wartawan tidak lagi identik dengan kemampuan tetapi cukup dengan kartu identitas.
Profesi yang dulu disegani karena integritas kini justru menjadi tempat pelarian bagi mereka yang gagal menemukan arah hidup. Mengapa orang berebut ingin menjadi wartawan padahal tidak punya kemampuan dasar ? Apakah benar karena panggilan hati ?
Atau karena profesi ini dianggap jalan pintas untuk “mengubah nasib” meski tanpa kompetensi, tanpa rekam karya, tanpa pemahaman etika?
Jika alasan seseorang menjadi wartawan adalah untuk memperbaiki ekonomi maka itu satu kesalahan besar. Profesi wartawan bukan tempat mencari kekayaan. Sebagai catatan wartawan adalah penjaga kepentingan publik bukan pencari kesempatan. Di titik inilah kita harus jujur pada diri sendiri.
Ketika wartawan hadir tanpa pengetahuan, tanpa keahlian, dan tanpa etika, maka yang lahir bukan jurnalisme melainkan kekacauan.
(Ahmad Basri – K3PP/H)












