TULANG BAWANG BARAT, indonewsmedia.com – Duka mendalam menyelimuti sebuah keluarga sederhana di Kabupaten Tulang Bawang Barat. Di tengah keterbatasan hidup, mereka kini harus menghadapi kenyataan pahit: masa depan anak mereka dipertaruhkan setelah mengalami kecelakaan serius di lingkungan sekolah.
Ni Kadek Bunga Citra Lestari, siswi kelas 4 SD Bujung Dewa, kini terbaring lemah setelah mengalami kecelakaan pada Rabu, 22 April 2026. Peristiwa itu bukan sekadar insiden biasa—luka parah yang dideritanya di bagian lutut membuat hidupnya berubah dalam sekejap.
Kondisi kritis memaksa pihak puskesmas setempat mengambil langkah cepat. Bunga segera dirujuk ke RSUD Mutiara Bunda, Tulang Bawang, demi mendapatkan penanganan lebih lanjut. Hasil pemeriksaan medis mengungkap fakta yang mengejutkan: urat besar di sekitar lututnya putus. Dokter menyatakan, satu-satunya harapan untuk menyelamatkan fungsi kaki tersebut adalah melalui tindakan operasi sesegera mungkin.
Namun, harapan itu kini terhambat oleh realitas pahit: biaya. Operasi yang dibutuhkan diperkirakan menelan biaya antara Rp9 hingga Rp10 juta—angka yang bagi sebagian orang mungkin terjangkau, tetapi menjadi beban yang nyaris mustahil bagi keluarga Made Winada. Sang ayah sehari-hari bekerja sebagai buruh tani dengan penghasilan tidak menentu, sekadar cukup untuk menyambung hidup dari hari ke hari.
Di rumah sederhana mereka di Tiyuh Bujung Dewa, Kecamatan Pagar Dewa, keluarga ini hidup dalam kesunyian dan keterbatasan. Tanpa sanak saudara yang bisa dimintai bantuan, mereka harus menghadapi cobaan ini sendirian.
“Kami masyarakat kecil benar-benar tidak sanggup mengeluarkan biaya sebesar itu. Penghasilan suami saja pas-pasan untuk makan sehari-hari,” ujar pihak keluarga dengan suara bergetar. Kamis 23/4/2026.
Pihak rumah sakit sebenarnya telah memberikan sedikit ruang harapan. Keluarga diberi waktu selama tiga hari untuk mengurus administrasi BPJS Kesehatan. Namun, keterbatasan pengetahuan serta kondisi ekonomi membuat proses tersebut terasa seperti jalan buntu yang kian menyesakkan.
Dalam keputusasaan, keluarga Made Winada hanya bisa berharap pada kepedulian para pemangku kebijakan. Mereka memohon perhatian dari Pemerintah Daerah Kabupaten Tulang Bawang Barat, khususnya Bupati, Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, anggota DPRD, hingga pemerintah pusat.
“Kami memohon agar keluhan kami didengarkan. Kami butuh bantuan BPJS gratis atau bantuan sosial agar anak kami bisa segera dioperasi. Jangan biarkan masa depan anak kami hilang hanya karena keterbatasan biaya,” seru orang tua pasien penuh harap.
Kini, waktu menjadi musuh terbesar. Setiap detik yang berlalu tanpa kepastian memperbesar risiko yang harus ditanggung Bunga Citra. Ia masih terbaring, menahan rasa sakit yang tak hanya menyerang fisiknya, tetapi juga mengiris hati kedua orang tuanya.
Di tengah situasi ini, publik menanti kehadiran nyata negara. Sebab, di balik angka dan prosedur, ada masa depan seorang anak yang tengah dipertaruhkan. Harapan itu masih ada—selama empati dan kepedulian tidak tinggal diam.
Semoga uluran tangan segera datang, agar Ni Kadek Bunga Citra Lestari dapat kembali berdiri, melangkah, dan tersenyum cerah seperti namanya.
(red/tim)












