Tulang Bawang Barat, indonewsmedia.com – Di tengah gembar-gembor pemerataan pendidikan, pemandangan di SMP Negeri 5 Margo Dadi, Kecamatan Tumijajar, Kabupaten Tulang Bawang Barat, provinsi Lampung justru mengiris hati. Satu ruang kelas di sekolah ini dibiarkan terbengkalai karena berubah menjadi sarang kelelawar. Bau kencing yang menyengat membuat ruangan tersebut mustahil digunakan untuk kegiatan belajar mengajar.
Kepala Sekolah, Dirmanto Bangun, membenarkan kondisi tersebut. Ia mengaku telah mencoba berbagai cara—mulai dari menyemprotkan obat, memasang jaring, hingga memanggil pawang kelelawar—namun hasilnya nihil.
“Kami sudah berupaya semampu kami, tapi kelelawarnya tetap kembali. Kami sampai kehabisan akal,” ujarnya, Senin (11/8/2025).
Kerusakan di SMPN 5 Margo Dadi tidak berhenti di situ. Atap, usuk, dan plafon di beberapa bagian sekolah juga rusak. Sayangnya, perbaikan tidak pernah maksimal karena keterbatasan Dana Alokasi Khusus (DAK) yang hanya diperuntukkan untuk rehab ringan.
“Kalau rusak parah, DAK tidak bisa dipakai. Lagi pula, kami sudah lama tidak dapat DAK lagi,” ucap Dirmanto, sambil mengaku lupa persentase penggunaan dana DAK sebelumnya.
Ironisnya, pada 2023 sekolah ini justru mendapatkan tiga bangunan baru melalui DAK, termasuk fasilitas MCK. Namun, hingga kini MCK tersebut belum pernah dipakai sama sekali. Alasannya sederhana tapi menggelitik: takut cepat rusak jika digunakan.
“Kami khawatir kalau langsung dipakai, nanti cepat rusak. Jadi sementara ini belum digunakan,” tambahnya.
Keadaan ini memunculkan tanda tanya besar. Untuk siapa sebenarnya fasilitas itu dibangun jika siswa dan guru tidak dapat memanfaatkannya? Sementara itu, satu ruang kelas tetap dibiarkan jadi “markas” kelelawar, memaksa anak-anak belajar berdesakan di ruangan lain.
Bagi para siswa, kondisi ini bukan sekadar masalah kenyamanan, melainkan juga kesehatan dan semangat belajar.
“Kadang kalau hujan, bocor. Kalau belajar di ruang penuh, panas dan sesak,” kata seorang siswi kelas IX yang enggan disebut namanya.
Di pelosok seperti Margo Dadi, cerita seperti ini seakan menjadi potret kecil betapa rapuhnya perhatian terhadap infrastruktur pendidikan. Bukan sekadar soal gedung, tapi soal keberpihakan pada masa depan anak-anak. (H/tim).
