TULANG BAWANG BARAT, indonewsmedia.com – Belum genap lima bulan sejak rampung direhabilitasi, atap bangunan ikonik Sesat Agung di Komplek Islamic Center, Tulang Bawang Barat (Tubaba), kembali bocor saat hujan deras mengguyur wilayah tersebut. Peristiwa ini sontak memicu sorotan publik terhadap kualitas pekerjaan proyek yang menelan anggaran miliaran rupiah.
Sebuah video berdurasi 23 detik yang beredar luas di media sosial memperlihatkan kondisi lantai bangunan tergenang air. Air tampak mengalir dari bagian atap, sementara sejumlah warga yang berteduh hanya bisa menyaksikan kondisi tersebut dengan nada kecewa.
Salah satu warga, Yanto, yang berada di lokasi saat kejadian, mengungkapkan keheranannya. Ia menyebut proyek rehabilitasi tersebut baru saja selesai pada Desember 2025.
“Kacau bang, bocornya besar, padahal Desember kemarin baru selesai dibagusin biayanya hampir Rp2 miliar,” ujarnya.
Berdasarkan papan informasi proyek yang terpasang di lokasi, kegiatan Rehabilitasi Sesat Agung Tahap II menelan anggaran APBD Tubaba sebesar Rp1.958.016.000. Proyek tersebut dikerjakan oleh CV Aruwana Karya Abadi dengan nomor kontrak 600/31/KONTRAK/DPUPR/TUBABA/IX/2025, dengan durasi pengerjaan selama 100 hari kalender.
Sebelumnya, pada tahun 2024, bagian atap bangunan yang sama juga telah direhabilitasi oleh CV Sangga Buana dengan anggaran sebesar Rp661.436.425. Dengan demikian, dalam kurun waktu dua tahun, Pemerintah Kabupaten Tubaba telah menggelontorkan dana sekitar Rp2,6 miliar untuk perbaikan Sesat Agung.
Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Tubaba, Ir. M. Iwan Setiawan IB., ST., MT., melalui Kepala Bidang Cipta Karya, Nurul, menjelaskan bahwa kerusakan yang terjadi bukan berada pada konstruksi utama bangunan. Ia menegaskan bahwa lingkup pekerjaan rehabilitasi tahap II meliputi lantai, kisi-kisi, plafon, serta utilitas kelistrikan.
Pada Kamis (23/4/2026), Nurul menjelaskan bahwa titik rawan kebocoran berada pada bagian talang air.
“Area rawan meluap air ketika hujan yaitu di talang air. Talang harus dibersihkan berkala karena sering tersumbat endapan lumut dan sampah yang menutup pipa saluran,” jelasnya.
Ia menambahkan, tim teknis telah diterjunkan untuk melakukan pembersihan guna mencegah air kembali meluap saat hujan.
Namun demikian, penjelasan tersebut belum sepenuhnya meredam kritik. Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Tubaba, Junaidi Farhan, menilai pernyataan Dinas PUPR belum menyentuh inti persoalan yang menjadi perhatian publik.
“Pernyataan itu belum menjawab pertanyaan warga soal urgensi rehab Rp1,95 M jika masalah berulang hanya karena perawatan talang. Publik juga menyoroti tanggung jawab kontraktor,” ujar Farhan.
Ia juga menyoroti cepatnya kerusakan yang terjadi, yang dinilai memicu opini publik terkait kualitas pekerjaan serta dugaan adanya mark up anggaran. Terlebih, masa usia hasil rehabilitasi tersebut belum mencapai lima bulan sejak serah terima pada Desember 2025.
Hingga berita ini diturunkan, pihak kontraktor pelaksana, CV Aruwana Karya Abadi, belum memberikan keterangan resmi terkait peristiwa tersebut, termasuk mengenai status masa pemeliharaan proyek yang menjadi salah satu aspek penting dalam menjamin kualitas pekerjaan.
Kondisi ini menambah daftar pertanyaan publik terhadap efektivitas penggunaan anggaran daerah, sekaligus menuntut transparansi dan akuntabilitas dari seluruh pihak yang terlibat dalam proyek tersebut.
(red)
