Login
Berita  

SMPN 10 Pagar Dewa Bangun Tiga Gedung Baru: Gedung Lama Terbengkalai!

Tulang Bawang Barat, indonewsmedia.com – Ironi dunia pendidikan kembali mencuat di Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba), Provinsi Lampung. Di tengah dua gedung sekolah lama yang dibiarkan terbengkalai dan ditelan semak belukar, SMP Negeri 10 Pagar Dewa justru tengah gencar membangun tiga gedung baru serta merehabilitasi dua ruang lainnya.

 

Padahal, proyek ini menggunakan anggaran Rp1,635 miliar yang bersumber dari APBN tahun 2025, melalui program Revitalisasi Satuan Pendidikan Direktorat Jenderal PAUD Dikdasmen Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Pekerjaan tersebut dikelola oleh Panitia Pembangunan Satuan Pendidikan (P2SP) dengan waktu pelaksanaan selama 120 hari kalender.

 

Namun, pemandangan di lapangan justru memunculkan tanya besar:

 

“Untuk apa membangun lagi jika gedung lama saja tak terurus?”

 

Pantauan wartawan di lokasi menunjukkan dua gedung lama berdiri muram di tengah rerumputan tinggi. Catnya pudar, sebagian dinding ditumbuhi lumut, bahkan beberapa bagian mulai rusak. Tak jauh dari situ, aktivitas pembangunan tiga gedung baru tampak sibuk—pekerja mondar-mandir, bahan bangunan berserakan, dan suara mesin bor memecah kesunyian pagi.

 

Beberapa pekerja lain yang ditemui di lokasi pun memberikan keterangan. Salah satunya, Habib, mengaku hanya buruh harian yang dibayar Rp.100 ribu per hari.

 

“Kami cuma ngerjain rangka baja aja. Kepala tukangnya saya nggak tahu, katanya rumahnya di Penumangan Baru,”ujar Habib. Sabtu (18/10/2025).

 

Tim media mendatangi rumah Heri kepala tukang di SMPN 10 Pagar dewa untuk mendapatkan informasi tentang proyek revitalisasi tersebut.

 

“Heri”, kepala tukang yang memimpin pekerjaan di lokasi, mengaku hanya menjalankan perintah dari pihak sekolah tanpa tahu siapa kontraktor atau pemborong proyek tersebut.

 

“Saya cuma kepala tukang. Ada empat tukang dan enam kenek yang kerja di sini. Upah tukang Rp.140 ribu per hari, kenek Rp.120 ribu. Biasanya Rp.100 ribu, tapi karena jauh saya tambahin buat uang minyak,”ujar Heri saat ditemui di rumahnya.

 

Ia menjelaskan, timnya mengerjakan tiga bangunan—salah satunya berukuran sekitar 4,5 x 7 meter—serta merehabilitasi dua ruang lain, yaitu laboratorium dan ruang tata usaha (TU).

 

Lebih mengejutkan, Heri mengaku perintah kerja datang langsung dari kepala sekolah.

 

“Yang nyuruh saya kerja itu kepala sekolah. Saya juga tidak tahu nama kepala sekolahnya, tapi kalau nama suaminya Fahmi dari sekolah tidak jauh kok, Kalau siapa yang borong, saya nggak tahu. Tapi katanya proyek ini dari pusat, langsung ke sekolah,”ungkapnya polos.

 

Keterangan para pekerja ini mempertegas ketidakjelasan pelaksana proyek. Bagaimana mungkin pekerjaan dengan nilai miliaran rupiah berjalan tanpa transparansi siapa pihak pelaksana dan penanggung jawabnya?

 

Kini publik menanti penjelasan resmi dari pihak sekolah dan Dinas Pendidikan Tubaba. Apakah proyek ini benar-benar bagian dari upaya meningkatkan kualitas pendidikan, atau sekadar proyek rutinitas yang menghabiskan anggaran tanpa manfaat nyata?

 

Sebab, di tengah banyak sekolah di Tubaba yang masih kekurangan ruang belajar, pembangunan tumpang tindih di SMPN 10 Pagar Dewa justru menimbulkan kesan tidak efisien, dan berpotensi membuka celah penyimpangan anggaran.

 

(H/tim)

Exit mobile version