Berita  

Kantor Tiyuh Balam Jaya Terkunci, Aparatur Ikut Menunggu di Luar: Gaji Jalan, Pelayanan Macet!.

Nurul Huda

Tubaba, indonewsmedia.com – Miris sekaligus memalukan! Kamis (28/8/2025) sekitar pukul 09.15 WIB, Kantor Tiyuh Balam Jaya, Kecamatan Way Kenanga, Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba), Lampung, tampak terkunci rapat. Alih-alih ramai dengan pelayanan, kantor justru sepi tak berpenghuni.

 

Yang lebih ironis, seorang aparatur tiyuh terlihat duduk di atas sepeda motor di luar gedung. Bukan karena enggan bekerja, tetapi karena pintu kantor belum dibuka. Aparatur sendiri ikut menunggu. Jika petugas saja kebingungan di depan kantor, lalu bagaimana nasib warga yang datang mengurus administrasi?

 

Padahal, gaji aparatur tiyuh dibayar lancar setiap bulan dari uang rakyat melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) serta Anggaran Pendapatan dan Belanja Tiyuh (APBT). Besaran penghasilan tetap aparatur tiyuh diatur dalam PP Nomor 11 Tahun 2019 dan dituangkan dalam APBT setiap tahun. Artinya, setiap rupiah yang mereka terima adalah amanah yang wajib dipertanggungjawabkan dengan kerja nyata.

BACA JUGA:  Diduga Curi Listrik untuk Acara HUT RI, Komunitas Jarum Istimewa Tuai Sorotan di Tubaba.

 

Lebih tegas lagi, UU Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik mewajibkan aparatur memberikan pelayanan cepat, tepat, mudah, dan terjangkau. Jika kantor saja tidak dibuka tepat waktu, aturan ini jelas dilanggar.

 

Kondisi ini bukan sekadar soal terlambat, melainkan bentuk kelalaian aparatur dalam mengelola kepercayaan masyarakat. Rakyat datang dengan harapan, tetapi yang mereka temukan hanyalah pintu terkunci. Apa gunanya kantor tiyuh megah jika pelayanannya nol?

BACA JUGA:  Samapta Polres Tulang Bawang Gelar Blue Light Patrol di Tiga Lokasi Berbeda.

 

Pertanyaan pedas pun menyeruak:

Untuk siapa kantor tiyuh ini dibangun?

Untuk siapa aparatur dibayar tiap bulan dari uang rakyat?

Apakah pelayanan publik hanya formalitas tanpa tanggung jawab?

Masyarakat berhak marah! Faktanya, uang mereka lancar dipotong untuk menggaji aparatur, tetapi pelayanan justru macet hanya karena pintu kantor tidak dibuka tepat waktu.

Kejadian di Balam Jaya adalah potret nyata kegagalan aparatur dalam memegang amanah. Kantor yang seharusnya menjadi “rumah rakyat” malah menjelma simbol ketidakpedulian. Jika hal ini terus dibiarkan, jangan salahkan masyarakat bila kepercayaan terhadap pemerintah Tiyuh semakin luntur. (H/tim)